Setelah Dokter Memvonisku “Bipolar Disorder” Kini Perjalanan Hidupku Sebagai Single Parent Kian Sulit

Postingan ini didedikasikan untuk Bunda RY Kusumaningtyas sebagai bentuk kepedulian penulis untuk Bunda yang sedang menjalani masa-masa sulit sebagai seorang single parent penderita Bipolar Disorder. Surat terbuka ini merupakan curahan hati dan murni ditulis oleh Bunda, penulis hanya mencopy ulang untuk berbagi dan mengajak rekan-rekan kompasiana untuk lebih mengenal, menyayangi dan memberi support kepada para penderita Bipolar Disorder termasuk Bunda. We all love u bunda. Keep spirit,  motivating and spread the love. 

Surat Terbuka

Dua puluh hari lagi usiaku genap tiga puluh sembilan tahun.

Sebuah perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan untuk manusia biasa sepertiku yang sama sekali bukan wonder woman.

Aku lahir sebagai anak haram dan tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuaku dari aku dilahirkan. Satu-satunya manusia yang kucintai dan perduli padaku direnggut oleh kematian saat aku baru sepuluh tahun.

Aku berjuang hidup sendirian. Dalam himpitan ekonomi yang pas-pasan, hujatan dan kesedihan. Tetap bersih dari alcohol, rokok, kehidupan malam apalagi free sex. Prestasiku cukup bagus dan aku berhasil lulus dari program diploma sebuah Universitas Negeri yang cukup punya nama.

Taka da seorangpun yang tahu ketakutan, kesakitan, kegelapan yang kurasakan dari hari demi hari.

Semua orang hanya melihat topeng cantikku yang ceria, kuat dan tegar jalani hidup.

Aku orang yang cinta damai. Tapi entah kenapa masalah selalu mengejarku kemanapun aku berlari pergi.

Aku tidak pernah dengan sengaja melukai hati siapapun. Tapi entah kenapa aku selalu jadi bahan gossip dan pergunjingan dari orang-orang.

Mungkin karena aku memang “freak”.

Suami pertamaku sering menyakitiku baik secara fisik maupun psikis sejak kami masih pacaran. Dia juga sudah terbiasa membawa perempuan-perempuan lain ke dalam kehidupan rumah tangga lain tanpa merasa bersalah. Tujuh tahun aku pacaran, tujuh tahun aku menikah. Aku harus berjuang menghadapi beratnya perceraian sebagai Pegawai Negeri Sipil, hujatan dan kecaman orang yang tidak tahu siapa kami yang sebenarnya.

Karena kebetulan aku tidak suka menjadi munafik dan selalu tampil sebagaimana apa adanya aku. Sedang mantanku selalu bertopeng sebagai orang alim dan baik.

Pukulan dan cobaan dari mulai lumpuh, kehilangan kesadaran dan tekanan mengantarkan aku pada vonis positif bipolar disorder pada tahun 2011.

Aku berjuang sendirian mengatasinya. Tanpa obat, tanpa support, tanpa caregiver. Bertahan hidup di tengah ketidak mengertian masyarakat Indonesia tentang apa itu “gangguan kejiwaan.”

Sangat menyakitkan ketika aku merasakan sakit secara fisik dan psikis tapi penampakan fisik terlihat sehat sehingga tidak seorangpun yang percaya kalau aku sakit selain dokter jiwa dan sesama penderita. Tudingan menyebarkan kebohongan publik, drama queen dan tidak beriman harus kuterima.

Tidak beriman….

Begitu mudahnya manusia lain mendiskreditkan penderitaan hidup orang lain sebagai akibat tidak beriman. Sebetulnya apa itu iman?

Bukankah yang paling pantas untuk mengukur iman kita hanyalah Sang Pencipta?

Aku bukan tipe orang yang suka “memamerkan” iman dan kecintaanku pada Tuhanku. Bukan tipeku untuk menunjukkan berapa rajinnya aku menjalankan ibadahku. Aku juga tidak suka ‘riya’ menuunjukkan ke orang lain kalau aku benci bergunjing, tidak pernah mencuri, merampok, korupsi dan semua perbuatan yang kurang baik lainnya. Itu bukan urusanku untuk menghitung seberapa banyak amal kebaikanku dan seberapa baik imanku.

Cukup bagiku berbuat yang terbaik sebagai manusia yang mencintai dan sangat mencintai Tuhan.

Aku sangat mencintai Tuhanku.

Karenanya aku bertahan hidup selama ini.

Menahan kesakitan dan kepedihanku yang tidak pernah dimengerti dan diterima orang lain.

Membiarkan semua orang berprasangka buruk terhadap ‘perbedaanku.’

Aku menulis memoarku, aku aktif memotivasi orang lain, aku mencoba membuka mata masyarakat umum tentang ada sebuah penderitaan yang melebihi penderitaan fisik yaitu penderitaan mental. Derita jiwa.

Betapa banyak kejahatan yang dimulai dari derita jiwa.

Betapa banyak kehidupan yang rusak dan hancur dimulai dari derita jiwa.

Anak-anak broken home, anak-anak bermasalah baik drugs, narkoba, kehidupan bebas tanpa moral, kriminalitas dan kehidupan amoral yang sekarang mengisi dunia.

Semua itu tidak hanya bisa diatasi dengan agama.

Karena agama adalah sebuah aturan bagi mereka yang normal dan sadar.

Sedangkan orang yang sakit jiwanya seharusnya disembuhkan dulu luka jiwanya baru bisa dituntun ke dalam kesadaran akan iman dan agama.

Bagaimana bisa mereka yang sakit jiwanya akan sembuh bila diterima oleh masyarakat saja tidak?

Mereka….kami….aku….hanya butuh DITERIMA. 

Penerimaan yang kemudian akan menjadi langkah awal dari PENGERTIAN.

Dua hal yang akan menjadi pilar utama bagi kesembuhan mental dan jiwa yang sakit supaya bisa menjadi manusia yang ‘dianggap’ normal dan sadar bagi masyarakat sekelilingnya.

Supaya bisa mengikuti batasan dan masuk ke dalam kotak yang diinginkan oleh lingkungannya.

Karena sejujurnya bagiku secara pribadi, kenapa manusia suka sekali mengkotak-kotakkan diri? Dengan berbagai macam label yang disematkan dari mulai agama, suku, pendidikan, waras-gila, baik-buruk yang pada akhirnya hanya berujung pada diskriminasi, pem-bully-an, penghujatan dan kesombongan yang merasa menjadi yang paling benar.

Bukankah kita semua ini sama? Apapun warna kulit, agama, atau waras dan tidaknya kita?

Sama-sama manusia yang punya hak dan kewajiban yang sama sebagai ciptaan Tuhan.

Bukankah semua agama mengajarkan hal yang sama?

Cinta dan kebaikan…

Dan bahwa yang berhak membeda-bedakan kita hanyalah Tuhan. Itu hak mutlak Tuhan untuk mengkastakan kita pada golongan hamba yang Dia cintai atau tidak.

Bisakah kita standarkan itu pada seberapa banyak dan rajinnya ibadah kita? Seberapa kita dipandang ‘waras’ dan ‘normal’ oleh sekeliling kita yang bahkan tidak bisa dijamin kenormalannya? Kurasa hanya Tuhan yang berhak menilainya. Karena siapa yang tahu apakah ritual keimanan kita itu tulus dan ikhlas dari hati atau hanya sekedar pamrih takut masuk neraka?

Pada akhirnya, tolong jangan hakimi hidup seseorang bila hidup seperti apa yang dia jalani kita tidak tahu.

Sebagaimana hidupku…

Aku harus minta maaf pada keluargaku, lingkunganku, kantor tempatku bekerja atas ‘ketidak normalanku’.

Bila aku boleh memilih akupun hanya ingin menjadi orang normal seperti kalian tanpa perlu embel-embel sebagai penderita gangguan jiwa.

Tapi aku tidak memilih memiliki ketidak stabilan mood yang ekstrim dan ketidak stabilan cairan di otakku. Aku tidak memilih lahir di kehidupan sulit yang mungkin ‘bisa disalahkan’ sebagai penyebab ‘ketidak normalanku’.

Tapi setidaknya aku sudah berusaha…

Seandainya ada sedikit saja di antara kalian yang mau tahu seluruh kisah perjalanan hidupku – yang bukan rekayasa atau kebohongan sebagaimana dituduhkan orang selama ini – dan mengambil hikmah dari situ. 

Kuharap kalian akan mau mengerti. Tidak harus memujiku sebagai ‘orang kuat, sabar atau tabah’ tapi tolong mengertilah…

Aku sudah berjuang dari tahun 1998 untuk bekerja sebaik yang kubisa sebagai Pegawai Negeri Sipil. Di mana berdasarkan riset, penelitian dan banyak faktor lain secara medis, orang dengan bipolar disorder sepertiku sangat sulit bisa bertahan lama di suatu lingkungan pekerjaan yang tidak sesuai dengan jiwa dan kondisi kami.

Aku bertahan demi komitmenku dan tanggung jawabku sebagai single parent dari seorang putri yang harus kubesarkan menjadi manusia yang baik di luar kondisiku yang tidak stabil. Aku bertahan karena aku harus membayar kewajiban-kewajiban hutangku yang sedemikian besar yang pada awalnya bukanlah hutangku tapi hutang mantan suamiku yang tidak bertanggung jawab.

Aku sendirian di tengah ketidak mengertian dan kesalah pahaman orang untuk kejujuran dan ‘ketidak munafikan’ku.

Maaf bila aku tidak bisa lagi menjadi seperti apa yang diinginkan manusia lain terutama lingkungan kantorku.

Aku tidak punya cukup uang untuk menjalani terapi dan pengobatan secara medis. Jadi aku memilih mengobati diriku sendiri dengan cintaku pada Tuhan dan dengan sebanyak mungkin membantu orang lain yang senasib denganku.

Sejujur-jujurnya aku sudah lama tidak sanggup bekerja lagi di lingkungan pekerjaanku.

Itu bukan salah pekerjaanku, teman-teman kantorku, aturannya, atasanku….

tapi itu salahku sebagai penderita bipolar disorder.

Aku sudah mencoba bertahan. Mencoba mengikuti semua aturan yang harus kuikuti. Tapi karena aku hanya manusia biasa, setelah hampir tujuh belas tahun, aku jatuh dalam fase ‘drop’ yang paling dalam.

Tidak hanya secara psikis tapi juga fisik.

Kantor meminta surat keterangan medis untuk kondisiku dan sudah berkali-kali kuberikan sesuai ketentuan, tetapi itu tidak cukup memberiku waktu untuk pulih di tengah stressor lain di hidupku. Pemeriksaan kondisi psikis seseorang tidak semudah pemeriksaan kondisi fisik yang jelas standarnya.

Belum lagi administrasi dan keribetan aturan dari rumah sakit pemerintah membuat stressorku bertambah. Sementara dokter jiwa yang menanganiku selama ini berasal dari rumah sakit swasta yang tidak bisa diterima oleh kantorku yang berupa kantor pemerintah.

Semua ini seperti lingkaran setan yang tidak berujung. Aku sudah menjalani banyak ritual pengusiran jin dan setan dan itu tidak membantu. Karena aku tidak dalam kondisi kemasukan jin atau setan, aku hanya sakit jiwa. Aku seorang BIPOLAR DISORDER.

Pada akhirnya di tengah tekananku untuk segera memenuhi kewajibanku sebagai seorang Pegawai Negeri Sipil, aku mengajukan surat permohonan pengunduran diri. Walau semua orang mencaci maki keputusanku sebagai sebuah kegilaan di tengah kondisiku yang pailit sepailitnya bahkan nyaris tidak cukup untuk biaya hidup tanpa bantuan dari teman-temanku, tapi aku merasa seperti tidak punya pilihan lain.

Tetapi bahkan itupun tidak bisa kulakukan, karena aku baru diijinkan keluar kalau hutang-hutangku sudah kulunasi. Yang secara perhitungan kasar tanpa menerima gaji sepeserpun , baru akan bisa kulunasi dalam delapan sampai sepuluh tahun ke depan.

Itu kalau aku masih waras.

Sedangkan saat ini saja aku harus berjuang ekstra keras untuk tetap bertahan di garis kewarasan itu sendiri.

Lalu adakah jalan keluar untuk orang dengan kondisi kejiwaan sepertiku?

Kembali ke kantor dan pekerjaan yang seperti ‘neraka’ dunia bagiku dan hanya seperti bom waktu yang akan menghancurkanku pada waktunya demi kewajiban dan hutang.

Atau nekat tidak kembali ke kantor dan dihujat semua orang karena lalai dari kewajiban dan melakukan ketololan melepaskan ‘pekerjaan impian’ semua orang, dan pada akhirnya di seret ke pengadilan baik secara hukum pidana dan perdata.

Mungkin aku akan memilih menghadapi persidangan daripada harus bertahan lagi di sebuah neraka yang sudah sukses melukaiku tujuh belas tahun ini dan akan melukaiku lagi delapan atau sepuluh tahun ke depan demi sebuah hutang – itupun kalau aku masih bertahan waras.

Silahkan caci maki aku sebagai orang yang tidak bertanggung jawab.

Silahkan hujat aku sebagai orang gila yang tidak tahu berterima kasih.

Tapi harus bagaimana lagi aku menerangkan kepada dunia kalau aku menghadapi teror dan ketakutan yang luar biasa pada kantorku, yang itu tidak akan pernah dimengerti oleh orang yang waras jiwanya?

AKU JUGA TIDAK MAU SEPERTI INI!

Siapa yang harus kusalahkan dalam kondisi seperti ini?

Aku sudah melakukan semua terapi motivasi diri dan berserah diri pada Tuhan. Tapi bila ‘sakit’ adalah ‘sakit’ lalu kepada siapa aku bisa protes?

Pada siapa aku bisa minta tolong selain pada Tuhan di tengah semua usaha maksimalku sebagai manusia sudah mencapai batasnya?

Aku minta maaf pada atasanku, teman-teman kantorku, instansi tempatku bekerja…dengan segala hormat, bukan mauku seperti ini.

Aku minta maaf pada pihak bank dan pihak-pihak yang punya ikatan utang piutang denganku, dengan segala hormat, bukan mauku tidak bisa melunasi hutang.

Bila kalian memilih untuk mempidanakan aku baik secara pidana dan perdata, aku terima.

Karena aku sudah tidak punya daya dan kemampuan apa-apa.

Aku sudah berusaha secara maksimal dan ini sudah di luar batas kemampuanku sebagai manusia yang ‘tidak normal’.

Aku kembalikan semua pada Tuhan. Hidup dan matiku….

Bila ini menjadi surat terakhirku, aku hanya ingin mengucapkan terima kasih pada semua orang yang pernah ada untukku. Baik mereka yang mendukung maupun menghujatku. Kalian semua adalah guru yang terbaik untuk hidupku.

Cintaku Rara, adik-adikku di Gaia dan semua orang yang telah ada buatku. Semua pembacaku di seluruh Indonesia dan semua penderita bipolar disorder.

Maaf kalau aku tidak bisa menjadi sempurna dan memenuhi harapan seperti yang kalian mau.

Aku bukan wonder woman….

Aku hanya manusia biasa…

Ry Kusumaningtyas

Sumber: 
https://www.kompasiana.com/nela.marghaniyata/5570e14b2523bdfb69584819/setelah-dokter-memvonisku-bipolar-disorder-kini-perjalanan-hidupku-sebagai-single-parent-kian-sulit?page=all

https://m2.facebook.com/story.php?story_fbid=951489148215011&id=100000618055935&refid=17&_ft_=top_level_post_id.951489148215011

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

1 Comment
Inline Feedbacks
View all comments
binance sign up
1 year ago

Your point of view caught my eye and was very interesting. Thanks. I have a question for you. https://accounts.binance.com/en/register-person?ref=P9L9FQKY

10 Effective Ways To G...

1win Jonli Kazino Blackjack qoidalarini o’rganish bir necha daqiqa sarflash, va osongina tez smart blackjack…

Read more

7 Facebook Pages To Fo...

£500 Loyalty Program at Novibet No, bonus bets have attached wagering requirements that you need…

Read more

10 Reasons Your Exness...

ECN account on EXNESS Date of experience: June 11, 2024. Once your funds leave our…

Read more

12 maneras en que pued...

Lista y Funcionamiento De Las Mejores Apps De Apuestas Deportivas En Chile Por supuesto, también…

Read more

Che cos’è la cas...

Casino Online non AAMS Meglio preferire sistemi come gli eWallet tra cui Paypal, Skrill o…

Read more

5 Romantic Gaming on t...

Mostbet App Apk – Latest Version If you no longer want to play games on…

Read more