Survivor Mental Disorder

Pada tahun 2016, International Health Metrics and Evaluation (IHME) menyatakan bahwa lebih dari 1,1 miliyar penduduk didunia mengalami penyakit gangguan mental (mental disorder) dan bergantung pada substans aditif. Sementara menurut data WHO terdapat sekitar 35 juta orang terkena depresi, 60 juta orang terkena bipolar disorder, 21 juta terkena skizofrenia, 47,5 juta terkena dimensia. Di Indonesia, dengan berbagai faktor biologis, psikologis, dan sosial serta keanekaragaman penduduk, maka jumlah kasus gangguan jiwa terus bertambah.

Apa itu Bipolar Disorder ?

Bipolar disorder atau gangguan bipolar merupakan bagian dari mental disorder atau ganguan mental yang menyerang kondisi psikis seseorang. Gangguan ini menyebabkan perubahan-perubahan yang tidak biasa pada suasana hati, energi, tingkat-tingkat aktivitas, dan kemampuan untuk melakukan tugas-tugas harian. Seseorang yang mengidap bipolar disorder biasanya sering merasa euphoria berlebihan atau mania dan mengalami depresi yang sangat berat. Periode mania dan depresi ini bisa berganti dalam hitungan jam, minggu, maupun bulan. Kondisi ini tergantung dari masing-masing pengidap. Bipolar disorder masuk dalam kategori gangguan kejiwaan atau jenis penyakit psikologi yang sangat serius karena dapat memengaruhi kehidupan penderitanya, baik bagi kesehatan, hubungan sosial, pekerjaan, dan orang-orang di sekitarnya.

Gangguan kejiwaan ini mulai terlihat pada masa remaja atau lebih dini dan terus berlangsung seumur hidup. Pada awalnya, gangguan kejiwaan ini sering tidak diakui oleh penderitanya karena hanya dianggap sebagai depresi biasa. Dokter sering salah mendiagnosis penyakit ini dengan gangguan schizofrenia karena manifestasi penampakan klinik atau gejalanya yang seringkali mirip. Inilah yang menyebabkan penanganannya menjadi terhambat dan menyebabkan persentase bunuh diri pada penderita lumayan tinggi yaitu antara 10 – 20% meninggal dunia akibat bunuh diri.

Divonis Bipolar Disorder

Saya divonis dokter positif bipolar disorder pada awal tahun 2012 setelah melewati tahun – tahun panjang mencari kejelasan terkait kondisi kesehatan fisik dan mental yang tidak pernah baik. Pada saat itu, bipolar disorder masih kurang dikenal di Indonesia, apalagi diperhatikan oleh masyarakat. Berbeda dari umumnya masyarakat Indonesia yang merasa enggan dan malu pergi ke psikiater untuk mengonsultasikan kondisinya, Saya justru berjuang kesana kemari untuk mencari jawaban. Di situlah Saya mulai paham kenapa umumnya penderita bipolar disorder enggan bercerita kepada keluarga dekatnya karena asumsi yang salah bahwa mereka pasti akan dianggap gila oleh orang lain. Banyak kasus justru penderita ditelantarkan atau dikucilkan oleh lingkungannya karena dianggap “aneh” atau “gila”. Masyarakat sering hanya melihat sisi penampilan atau lahiriahnya dan menganggap penderita berbohong. Sementara itu, penderita justru merasakan sakit yang luar biasa.

Saya merasakan kepedihan dan beratnya menanggung beban derita jiwa, saya harus menanggung pandangan negatif dari orang baik sosial, pekerjaan, keluarga dan lingkup pribadi. Penderitaan itu nyaris membawa saya ke tepi jurang dan merasakan semua hal terburuk yang bisa dirasakan hati manusia Pada akhirnya, orang yang paling memahami gangguan kejiwaan yang sebenarnya adalah penderitanya sendiri. Mereka yang tidak mengalami seringkali tidak bisa memahami dan berempati pada apa yang dirasakan oleh si penderita.

Saya sebagai Survivor Mental Disorder

Saya mencoba mengajak masyarakat umum agar lebih bersikap responsif dan tidak berstigma negatif terhadap penderita gangguan kejiwaan. Perjuangan Saya yang berjuang tanpa kenal lelah dari usia sepuluh tahun dalam mengatasi rasa sakitnya dan menghadapi penghakiman dari keluarga, sahabat, masyarakat, dan kantornya mendorong saya untuk menuliskannya dalam bentuk memoar “Mereka Bilang Aku Gila” dengan harapan para pembacanya akan terinspirasi tentang arti “perjuangan yang tidak kenal menyerah”. Tidak berhenti sampai situ, Saya terus aktif berjuang memperkenalkan bipolar disorder melalui banyak jalan, cara dan media termasuk memperkenalkan tarot sebagai salah satu media terapi mental disorder. Terapi dengan media tarot ini sudah terbukti cukup efektif untuk Saya sebagai seorang survivor disorder tanpa obat, juga sudah terbukti banyak membantu orang lain berhasil mengatasi mental disorder mereka. Apa yang Saya lakukan itu diapresiasi oleh beberapa psikiater dan psikolog sebagai salah satu terapi yang tidak ada salahnya dicoba.